Tampilkan postingan dengan label SCIENCE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SCIENCE. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Juli 2011

Seribu Spesies Baru dari Papua dan Papua Nugini



Lebih dari 1.000 spesies baru ditemukan para ilmuwan peneliti di Papua serta Papua Nugini dalam waktu 10 tahun terakhir. Sayangnya keanekaragaman itu terancam kepunahan akibat tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab.

Berdasarkan laporan terbaru yang disusun oleh World Wildlife Fund (WWF), peneliti telah menemukan sebanyak 218 spesies tumbuhan, 43 reptil, 12 mamalia, 134 amfibi, 2 burung, 71 ikan, serta 580 invertebrata. Dengan jumlah sebanyak itu, artinya ditemukan dua spesies setiap dua minggu.

(Lihat: Galeri 1.060 Spesies Baru Papua)

Spesies-spesies baru tersebut ditemukan sepanjang 1998 hingga 2008 oleh kelompok-kelompok tim dalam berbagai lingkungan pulau itu, mulai dari daerah hutan, perairan, hingga pesisir. "Melihat segi keanekaragaman hayati, pulau ini lebih mirip benua daripada pulau," cetus Neil Stronach, salah seorang perwakilan dari WWF Western Melanesia.

Sementara Mark Wright, Conservation Science Adviser WWF, menyoroti bahwa, walau kekayaan hayati ini sangat mempesona akan tetapi ancaman kepunahan tidak mungkin dihindari. "Meski ada upaya maksimal yang dibangun oleh organisasi, seperti WWF, sangat jelas bahwa kita tidak bisa menyelamatkan seluruh spesies. Hutan akan terus ditebangi, sungai-sungai dibendung, pesisir pantai terus dibangun. Sejumlah spesies akan terhapus," kata Wright.

(Baca: Ikan Tanpa Mata dari Papua)

Pulau yang menampung Papua serta Papua Nugini--dunia internasional menyebutnya pulau New Guinea--merupakan pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Pulau ini diketahui memiliki ekosistem yang belum tersentuh. Kawasan hutan hujannya terbesar ketiga di dunia setelah Amazon dan Kongo dan menjadi rumah untuk sekitar 6 hingga 8 persen spesies hewan yang ada di muka bumi.

Beberapa spesies menakjubkan yang terdapat di pulau tersebut adalah ikan hiu air tawar sepanjang 2,5 meter, kuskus bermata biru, kupu-kupu yang memiliki sayap terlebar, katak dengan gigi taring, lumba-lumba kepala bulat, serta ular buta. (Sumber: Our Amazing Planet)

Kamis, 30 Juni 2011

2035, Pesawat Listrik Siap Terbang


2035, Pesawat Listrik Siap Terbang

 
Konsep pesawat VoltAir menggunakan teknologi propulsi elektrik, menghasilkan emisi nol, dan tidak berisik. Pesawat ini siap terbang pada tahun 2035.

Voltair mengambil daya dari sepasang baterai litium ion di bawah "hidung"-nya. Baterai tersebut mengirimkan daya ke sepasang co-axial, baling-baling yang berputar di bagian belakang pesawat. Sumber daya itu pun tak semahal bahan bakar jet. Ketika pesawat mendarat, baterai mudah dicopot dan diganti yang baru. 

Meski desain pesawat takkan jauh beda dengan saat ini, tetapi badan pesawat asli nanti akan dibuat dari bahan komposit yang lebih kuat dan ringan. Drag pesawat akan dikurangi dengan ujung sayap mirip Boeing 787.

Karena VoltAir akan berbasis pada material pengantar listrik super bertemperatur tinggi, pengembangan pesawat belum akan tampak dalam waktu dekat. Namun, pembuat pesawat EADS mengatakan, "Konsep ini akan menjadi kenyataan tahun 2035."

"VoltAir adalah konsep riset jangka panjang, bukan pendekatan komersial jangka pendek. Riset kami melihat masa depan dan bisa berguna pada banyak hal," kata Jean Botti, Chief Technical Officer EADS.

Botti mengatakan, saat ini EADS tengah memacu riset yang mendukung realisasi pesawat itu untuk menemukan ide baru. Muaranya adalah pada terwujudnya propulsi elektrik tanpa emisi yang lebih canggih. (Yunanto Wiji Utomo)

Senin, 27 Juni 2011

TEKNIK EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI DAN DAMPAK TERHADAP LINGKUNGAN

ABSTRAK
Makalah ini mempunyai latar belakang masalah tentang Teknik eksplorasi dan eksploitasi dan dampak terhadap lingkungan. Negara kita ini mempunyai potensi sumberdaya alam yang banyak baik yang dilaut maupun yang di darat, sudah seharusnya kita memangfaatkan sumberdaya tersebut dengan semaksimal mungkin dan tentunya tanpa melupakan aspek kelingkunganan.
Pada umumnya bahan galian terdapat didekat permukaan tetapi juga ada yang terdapat dan terkumpul di bawah permukaan yang relatif aga dalam. Selain itu bahan galian tersebut ada yang keras, ada yang lunak bahkan setengah kompak
Sumber daya alam (SDA) merupakan anugerah Tuhan yang harus kita syukuri dengan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya dan kita jaga kelestariannya. Eksploitasi sumber daya alam secara berlebih-lebihan tanpa memperhatikan aspek peran dan fungsi alam ini terhadap lingkungan dapat mendatangkan berbagai macam bencana alam seperti tanah longsor, banjir, kabut asap, pemanasan global hingga bencana lumpur panas Sidoarjo yang sangat merugikan masyarakat.

Rabu, 22 Juni 2011

Ilegal, Sebagian Besar Penebangan Hutan di Indonesia

Sekitar 88 persen dari kegiatan penebangan hutan di Indonesia dilakukan secara ilegal. Dari segi pelaku dan aspek kerugian negara, pembalakan liar sudah sangat memprihatinkan. Demikian hasil pemantauan aktivitas pembalakan liar yang dikaji dari pencitraan udara Greenpeace.

Besarnya persentase menunjukkan, pembalakan liar tak dapat dipandang sebelah mata sebagai tindak pidana biasa karena kerugian negara, berdasarkan versi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), mencapai Rp30,3 triliun per tahun. 

"Sudah saatnya penegak hukum mengubah paradigma bahwa kejahatan kehutanan bukanlah tindak pidana biasa," kata Donal Fariz, Peneliti Hukum Indonesia Corruption Watch (ICW). Sebab, kejahatan itu dilakukan secara terstruktur dan sistematis dengan melibatkan unsur pengambil kebijakan.

Selain itu, banyak kasus kejahatan dilakukan lintas negara. Donal mengatakan diperlukan terobosan luar biasa untuk memberangus dan memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan. "Salah satu caranya yakni dengan menerapkan delik korupsi," katanya. Donal menyayangkan adanya kelemahan yang amat mendasar dalam Undang-Undang Kehutanan. "Jika menggunakan UU Kehutanan yang terjerat adalah perorangan, pelaku pelaku penebangan di hutan. Akan tetapi, aktor intelektual yang sesungguhnya tidak tersentuh proses hukum sama sekali," tutur Donal. (Dwi Bayu Radius)

''Bosscha Siap Selidiki Pluto Lewat Gerhana''


Bosscha Siap Selidiki Pluto Lewat Gerhana

Meutia Chaerani / Indradi Soemardjan
Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat, bekerja dengan tim dari Steward Observatory, Arizona, Amerika Serikat serta didukung National Geographic, NASA, Planetary Astronomy, dan beberapa badan lain, melakukan pengamatan Pluto yang bertujuan untuk menyelidiki tekanan atmosfer. Rencananya para astronom akan coba menyingkap misteri Pluto ini melalui pengamatan gerhana (okultasi) bintang.

Gerhana bintang memanfaatkan sebuah benda bergerak di antara pengamat dan bintang yang jauh. Pluto dan dua satelit alamnya yaitu Hydra dan Charon, akan mengokultasi bintang-bintang terang. Fenomena ini dapat diamati di beberapa negara yang berada di Samudera Pasifik.

“Bosscha beruntung karena bisa mengamati fenomena langka itu. Meski hanya berlangsung beberapa menit, pengamatan gerhana Pluto ini dapat menjawab berbagai misteri, seperti ketahanan atmosfer, cuaca, serta berbagai karakteristik lainnya,” ujar Direktur Observatorium Bosscha, Hakim L. Malasan seperti dilansir Pikiran Rakyat, Senin (20/6). Gerhana Pluto dan kedua satelitnya itu, menurut Hakim, dapat dengan jelas diamati di Observatorium Bosscha.
Ia mengatakan pula, gerhana Pluto sebenarnya terjadi dua kali, yakni di 23 dan 27 Juni. Meski demikian, gerhana pada 23 Juni tidak dapat diamati dari Indonesia karena hanya terlihat di kawasan timur Pasifik, yakni Hawaii, California, dan Mexico serta kawasan barat Pasifik yakni Nauru dan Filiphina.

Sementara pada 27 Juni mendatang, gerhana Pluto dapat diamati dari Indonesia karena melintasi sebagian besar daerah selatan Indonesia, termasuk Pulau Jawa.